PENERAPAN MOTIF GUNUNGAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Suwarna, . (2002) PENERAPAN MOTIF GUNUNGAN DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. [Experiment/Research]

[img] Text
PENERAPAN_MOTIF_GUNUNGAN_DI_DAERAH_ISTIMEWA.doc

Download (31kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui clanmendeskripsikanpenerapan motif gunungan yang sudah dikembangkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk: pentas,larnbing, logo, hiasan, monumen, dan souvenir. Jenis penelitian kualitatif, menggunakan metode desain studi meclan ganda induksi analitik. Penerapan motif gunungan di DIY ini dapat diperhatikan pada gunungan: Wayang Ukur, larnbang kota Yogyakarta, UNWAMA, Logo Yogya Berhati Nyarnan, Sleman Sembada, Kulonprogo Binangun, hiasan Harga Durnilah Bantul, Museum Wayang Bantul, BPR Kallyana Adhikarnandana Gungkidul, Masjid Agung Manunggal Bantul, Gapura Pujakusurnan Yogyakarta, Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949Yogyakarta, Kubu Gerilya Yogyakarta, prasasti peresmian Gedung Pemda Sleman, Sendang Ayu Sleman, Yogya Kembali, souvenirgunungan perak Kotagede, souvenir Seminar Nasional FMIPA UNY. Data diperoleh dengan observasi, interview, dokurnentasi. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kualitatif. Teknik pemeriksaan keabsahan data adalah : ketekunan pengamatan. Sedangkan untuk uji validitas dan reliabilitas data melibatkan 3 pakar: pakar budaya Jawa Doktor Suharti dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas NegeriYogyakarta (UNY), pakar Seni Rupa Edi Sunaryo M. Sn Fakultas Seni Murni Institut Seni Indonesia Yogyakarta, clanIswahyudi, M. Hum. dosen Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS,UN Y (dalang). Hasil penelitian di DIY menunjukkan bahwa: 1. Motif gunungan (nama lain: pohon Hayat, Kalpataru, Kekayon,) pada prinsipnya adalah bentuk dasar segitiga sarna kaki mengandung makna simbolis-filosofis sebagai lambang ke Esaan Tuhantetap diacu dan tidak banyak mengalami perubahan bentuk, berbagai motif dikembangkan dalam berbagai kepentingan sesuai dengan fungsinya, sehingga temcipta berbagai macam motif yang kreativ. 2.Penerapan motif gunungan untuk pentas Wayang Ukur terdapat gunungan Wayang Ukur 1 yang berbentuk lingkaran bola dunia, Gunungan Wayang Ukur 2, 3, 4, tidak banyak . memanfaatkan motif-motif pada gunungan wayang kulit, narnun teap mengacu bentuk dasar segitiga sarna kaki. 3. Untuk lambang, penerapan motif gunungan dipadukan dengan motif-motif yang lain sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh sebagai lambang kota Yogyakarta dan UNWAMA.4. Untuk logo, penerapan motif gununganmengacu bentuk dasar segi tiga sarna kaki, clantelah dimodifikasi sedemikian rupa terkesan sederhana dan modem, logo Yogya Berhati Nyaman, Sleman sembada, dan Kulonprogo Binangun. 5. Untuk hiasan, motif gunungan telah dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya untuk menghias suatu bangunan, berupa suryasengkala dan hiasan pasif maupun fungsional. 6. Untuk Monumen, bentuk dasar segitiga sarna kaki tetap sebagai bentuk dasar dan bersifat histories, herois clan monumental. 7.Untuk souvenir, kerajinan perak Kotagede masih banyak mendekati motif-motif gunungan wayang kulit, namun untuk souvenir Seminar Nasional, motif-motifnyatelah berbeda. sesuai fungsinya

Item Type: Experiment/Research
Subjects: LPPM
Divisions: LPPM - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Date Deposited: 20 Sep 2012 09:43
Last Modified: 02 Oct 2019 02:16
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/6135

Actions (login required)

View Item View Item