STATUS ISOLEK YOGYAKARTA-SURAKARTA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP BAHASA JAWA STANDAR: TINJAUAN LINGUISTIK KOMPARATIF DIAKRONIS

Pujiati, M. Pd., Phd. (2007) STATUS ISOLEK YOGYAKARTA-SURAKARTA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP BAHASA JAWA STANDAR: TINJAUAN LINGUISTIK KOMPARATIF DIAKRONIS. [Experiment/Research]

[img]
Preview
Text
Pujiati.pdf

Download (10kB) | Preview

Abstract

Penelitian ini terfokus pada isolek Yogyakarta-Surakarta yang merupakan alat komunikasi antaranggota masyarakat di daerah Yogyakarta dan Surakarta yang belum ditentukan statusnya sebagai bahasa, dialek, atau subdialek. Isolek tersebut perlu ditentukan statusnya mengingat adanya kebingungan di antara praktisi pendidikan, serta masyarakat pada umumnya, terkait dengan ketentuan bahasa Jawa Standar yang ditetapkan pemerntah selama ini. Sejak lama pemerintah Belanda dan Republik Indonesia menetapkan bahasa Jawa Standar adalah dialek Yogyakarta-Surakarta. Hal ini menyiratkan adanya anggapan bahwa dialek Yogyakarta-Surakarta merupakan satu kesatuan dialek. Padahal dalam perjalanan waktu dan perkembangan zaman, kedua daerah berkembang ke arah berbeda, diduga jumlah persamaan kedua isolek menurun secara signifikan pada saat ini. Jika ternyata terbukti demikian halnya, status kedua isolek harus segera ditentukan dan ketetapan bahasa Jawa Standar perlu ditinjau kembali. Hal tersebut merupakan masalah mendesak untuk diteliti. Desain penelitian ini adalah research and development yang dilakukan dalam tiga tahap. Tahap I dilakukan survei lapangan di daerah-daerah, tahap kedua survei kepustakaan dan pengembangan draft buku, dan tahap III pengembangan buku. Obyek penelitian adalah semua bunyi tutur Jawa di daerah Yogyakarta dan Surakarta yang belum ditentukan statusnya sebagai bahasa, dialek, atau subdialek. Terkait dengan Jawa standar dan substandar yang diajarkan di sekolah, bunyi tutur di daerah Banyumas dan Jawa Timur juga menjadi obyek penelitian. Data dikumpulkan dengan metode cakap dan simak, disertai pengamatan, perekaman dan pencatatan melalui daftar kosakata mendasar Swadesh 200 edisi Pusat bahasa, daftar kosaka 600 medan makna, daftar frase, dan daftar kalimat. Penggunaan berbagai cara pengambilan data untuk menjaga validitas data. Data dianalisis dengan metode diakronis melalui teknik leksikostatistik, dan metode sinkronis melalui teknik komparatif.. Hasil penelitian tahun I (2006) menunjukkan, jumlah pasangan kerabat mencapai 86,5%, yang termasuk ke dalam kriteria hubungan antardialek dalam satu bahasa. Dengan demikian, status hubungan kedua isolek adalah hubungan antardialek. Hal itu diperkuat oleh hasil analisis sinkronis melalui kosakata 600 medan makna, tataran frase, dan kalimat. Bukti-bukti linguistis tersebut berimplikasi pada penetapan dialek Jawa Standar. Sesuai dengan statusnya sebagai dialek, dalam dialek Yogyakarta dan Surakarta ada unsur yang sama, selain ada yang khas. Unsur-unsur yang sama pada kedua dialek, merupakan dialek Jawa Standar, unsur khas menjadi unsur lokal. Dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah, diajarkan bahasa Jawa dialek Standar dan bahasa Jawa lokal, agar bahasa lokal tetap terpelihara. Termasuk Jawa lokal adalah dialek-dialek substandar. Demikian pula, buku-buku pelajaran bahasa Jawa, akan mengacu pada Jawa standar dan unsur lokal atau substandar. FBS, 2006 (PEND. BHS & SASTRA INDONESIA)

Item Type: Experiment/Research
Subjects: Bahasa dan Sastra > Bahasa dan Sastra Indonesia
LPPM - Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Divisions: Fakultas Bahasa dan Seni > Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Depositing User: lembaga penelitian
Date Deposited: 29 Jun 2012 06:54
Last Modified: 13 Sep 2012 09:54
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/1293

Actions (login required)

View Item View Item