PERAN ETNIS TIONGHOA DALAM PERDAGANGAN OPIUM DI KARESIDENAN SEMARANG PADA TAHUN 1870-1896

Iswarta Bima, Pangukir Ilham (2012) PERAN ETNIS TIONGHOA DALAM PERDAGANGAN OPIUM DI KARESIDENAN SEMARANG PADA TAHUN 1870-1896. S1 thesis, UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA.

[img] Text
1 - (04407141013).docx

Download (130kB)
[img] Text
BAB 1 (04407141013).rtf

Download (207kB)
[img] Text
BAB 2 (04407141013).rtf

Download (236kB)
[img] Text
BAB 5 (04407141013).rtf

Download (109kB)
[img] Text
LAMPIRAN (04407141013).rtf

Download (27MB)

Abstract

Di Nusantara, etnis Tionghoa berperan penting dalam berbagai bidang perdagangan, termasuk juga dalam perdagangan opium. Sejak dikenal oleh masyarakat, opium telah menjadi salah satu komoditas perdagangan penting di Jawa dan menjadikannya sebagai pilihan bisnis. Selain itu, kedudukan sebagai hoofdpahcter opium tidak hanya memberikan keuntungan besar secara material, akan tetapi juga berpengaruh pada status sosial. Semarang sebagai salah satu kawasan strategis di Jawa pun memiliki peran tersendiri dalam perdagangan opium. Akhir abad ke-19 menandai puncak sekaligus akhir dari peran bandar opium Tionghoa. Sistem Opium Pacht yang digunakan semenjak era Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pun berganti dengan Sistem Opium Regi. Berlakunya sistem tersebut menjadikan kedudukan perantara bandar Tionghoa melemah. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui peranan etnis Tionghoa yang memonopoli perdagangan opium di Semarang pada akhir abad XIX. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini ialah metode penelitian sejarah kritis. Penelitian sejarah kritis adalah sebuah metode merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif, yaitu dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi serta mensintesakan data-data untuk memperoleh fakta dan kesimpulan yang kuat. Metode penelitian sejarah kritis ini terdiri dari empat langkah utama. Pertama heuristik, yakni pengumpulan sumber-sumber sejarah yang relevan. Kedua, kritik sumber, merupakan tahap pengkajian terhadap otentitas dan kredibilitas sumber. Ketiga, interpretasi yang berfungsi untuk menghubungkan fakta-fakta dengan penafsiran. Terakhir, historiografi atau penulisan yaitu penyampaian sintesis dalam bentuk karya sejarah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa orang-orang Tionghoa selaku bandar memiliki peran signifikan dalam perdagangan Opium di Semarang. Meski posisinya di bawah pemerintah, akan tetapi bandar-bandar ini mendapat keuntungan yang tidak sedikit dari pengelolaan opium mentah. Karesidenan Semarang juga dikenal sebagai wilayah dengan konsumsi opium yang tinggi. Selain berposisi sebagai daerah pensuplai opium, kondisi masyarakat di akhir pertengahan abad XIX juga turut mempengaruhi maraknya konsumsi opium. Akan tetapi, berbagai krisis yang melanda Jawa dan berimbas pada ambruknya ekonomi mengakibatkan pemerintah menghapus Sistem Opium Pacht dan mengganti dengan Sistem Opium Regi. Pergantian tersebut secara berkala mengurangi peran bandar Tionghoa dalam monopoli perdagangan opium. Kata Kunci: Tionghoa, Karesidenan Semarang, Perdagangan Opium.

Item Type: Thesis (S1)
Uncontrolled Keywords: Tionghoa, Karesidenan Semarang, Perdagangan Opium.
Subjects: Ilmu Sosial > Sejarah
Perpustakaan
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial, Hukum dan Ilmu Politik (FISHIPOL) > Pendidikan Sejarah
Perpustakaan
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 11 Dec 2012 03:39
Last Modified: 29 Jan 2019 17:42
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/8620

Actions (login required)

View Item View Item