KONFLIK ANTARA MASYARAKAT DENGAN PENAMBANG PASIR BESI (Studi Kasus di Desa Garongan Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo)

Setyawan, Wahyono (2012) KONFLIK ANTARA MASYARAKAT DENGAN PENAMBANG PASIR BESI (Studi Kasus di Desa Garongan Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo). S1 thesis, Fakultas Ilmu Sosial.

[img] Other (FIS Digital)
Skripsi Full Sos 08413244025 Wahyono Setyawan.swf - Published Version

Download (3MB)

Abstract

Konflik penambangan pasir besi di Desa Garongan Kecamatan Panjatan merupakan konflik antara masyarakat dengan penambang pasir besi dan pemerintah, dan masyarakat dengan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi konflik, bentuk-bentuk konflik akibat penambangan pasir besi, dan dampak yang ditimbulkan akibat konflik penambangan pasir besi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara terstruktur, observasi partisipan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Validitas data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data, dan analisis datanya menggunakan analisis model interaktif Miles dan Huberman. Konflik penambangan pasir besi di Desa Garongan Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo merupakan konflik yang di dalamnya terdapat beberapa aktor. Aktor-aktor tersebut mempunyai kepentingan yang ingin dicapai. Faktor konflik rencana penambangan pasir besi adalah kebijakan pemerintah melakukan penambangan pasir besi, pro dan kontra penambangan pasir besi, penggusuran lahan pertanian masyarakat sebagai area penambangan, dan kesimpangsiuran informasi dan kejelasan pemanfaatan penambangan. Pemerintah melakukan penambangan pasir besi dengan alasan untuk meningkatkan APBD dan membuka lapangan kerja di Kulon Progo. Kebijakan pemerintah menuai pro dan kontra di masyarakat. Bentuk konflik adalah konflik vertikal dan konflik horizontal. Konflik vertikal baik secara langsung maupun secara tidak langsung yang terjadi meliputi, konflik perebutan lahan dan alih fungsi lahan pertanian menjadi penambangan pasir besi, penolakan sosialisasi penambangan, aksi unjuk rasa, publik hearing, penolakan pembentukan Tim Komisi AMDAL, dan pendirian posko dan pembuatan portal oleh masyarakat. Konflik horizontal yang terjadi yaitu adanya pro dan kontra di masyarakat. Pro dan kontra disebabkan lahan pesisir selatan merupakan satu-satunya lahan pertanian yang digunakan masyarakat untuk mencari nafkah dan menghidupi keluarga. Dampak konflik adalah ketidakharmonisan antara masyarakat setuju dan masyarakat tidak setuju penambangan pasir besi yang didalamnya meliputi lunturnya sikap gotong royong, dan hilangnya rasa kemanusiaan antara pro dan kontra. Kata kunci : konflik, faktor, bentuk penolakan, dampak.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Umum > Penelitian
Ilmu Sosial > Sosiologi Antropologi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial, Hukum dan Ilmu Politik (FISHIPOL) > Pendidikan Sosiologi
Depositing User: Admin Pendidikan Sosiologi FIS
Date Deposited: 22 May 2015 02:43
Last Modified: 29 Jan 2019 22:42
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/19211

Actions (login required)

View Item View Item