Isi Modul Apresiasi Seni Rupa Indonesia Modern

Drs. Suwarna, M.Pd, Suwarna (2011) Isi Modul Apresiasi Seni Rupa Indonesia Modern. In: Modul Apresiasi Seni Rupa Indonesia Modern. P3AI UNY, Jurusan Pendidikan Seni Rupa FBS UNY.

[img] Archive (Modul PPG Seni Rupa)
PENDAHULUAN_-_PUSTAKA.rar

Download (38MB)

Abstract

Apresiasi seni rupa Indonesia modern ini mencakup pembicaraan tentang: 1. Masa perintis seni rupa kontemporer Indonesia Pembahasan seni lukis Indonesia yang dirintis oleh R. Saleh SB ( 1807-1880) dengan gaya realis romantisme, pengaruh seni rupa Barat, dengan kecakapan teknik cat minyak yang prima, mampu menampilkan lukisan potret, dan adegan-adegan dramatis. Hal ini telah diakui oleh para kritikus Barat, sehingga dianggap sebagai perintis seni rupa kontemporer Indonesia. 2. Hindia Molek Hindia Molek atau Mooi Indie atau Hindia Jelita merupakan periode seni lukis Indonesia sekitar tahun 1908 – 1942, menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, yang diprakarsai oleh pelukis Abdullah Suryasubroto, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Heng Ngantung, Cokorde Gede Agung Sukawati, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Nyoman Lempat. Mereka banyak menampilkan lukisan bertema pemandangan, gadis cantik, potret para bangsawan, yang diungkapkan secara realistik dan bahkan menjadi semakin cantik - molek dan menawan, sehingga kemedol, laku dijual. 3. Persagi Persagi (Persatuan ahli gambar Indonesia), tahun 1938 – 1942 lahir di Jakarta dengan ketua Agusjaya Suminta, pemikir seninya adalah S. Sujoyono. Anggota: Emiria Sunassa, GA Sukirno, Suromo, Ramli, dll (20 orang). Menggelorakan nasionalisme dalam kebudayaan, menolak bentuk seni yang hanya medemonstrasikan teknik Barat. Tujuan: mengembangkan seni lukis di kalangan bangsa Indonesia baru. Karya S. Sujoyono “Di depan kelambu terbuka” sangat terkenal. 4. Zaman penjajahan Jepang Sekitar tahun 1942-1945, banyak seniman ikut perjuang dalam perang kemerdekaan. Lahir “ Keimin Bunka Shidosho” dengan anggota: Agusjaya, Subanto,Ottojaya, Trubus, Kusnadi,Zaini, Dullah, dan Hendra Gunawan. Kelompok ini juga tercatat di” Pusat Tenaga Rakyat” yang dipimpin oleh empat serangkai yaitu Soekarno, Hatta, Mansyur dan Dewantara. Bagian kebudayaan dipimpin oleh S. Sujoyono, Affandi, Basuki Abdullah, Nyoman Ngendon. Affandi terkenal dengan “potret diri”, teknik plototan, realis ekspresionisme. Saat itu sangat sulit mendapatkan cat minyak dan kanvas, maka sarung dipakai sebagai kanvas. 5. Sanggar dan Akademi Seni Rupa Sekitar tahun 1945-1950 adalah masa revolusi fisik, terdapat beberapa sanggar diantaranya adalah:Golongan Seni Rupa Masyarakat ketua Affandi, sekretaris Dullah. Seniman Indonesia Muda (SIM) lahir di Madiun ketua S. Sujoyono. Pelukis Rakyat di Yogyakarta ketua, ketua Hendra. Gabungan Pelukis Indonesia di Jakarta. Pada tahu 1947 pameran bersama di Yogyakarta. Sanggar Bambu di Yogyakarta. Poster perjuangan: Boeng Ayo Boeng karya Affandi, teks Chairil Anwar. Ada pelukis front, melukis di garis depan peperangan agresi militer ke 2 di Yogyakarta. Banyak pelukis yang diam di Yogyakarta pula. Pada tahun 1949 berdiri Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI di Gampingan Yogyakarta, RJ Katamsi Direktur pertama. Pendukung adalah : S. Sujoyono, Hendra Gunawan, Jayeng Asmara, Kusnadi, Sindusiswoyo. Pada tahun 1950 di Bandung lahir Sekolah Guru Seni Rupa, sekarang Seni Rupa ITB.

Item Type: Book Section
Subjects: Seni dan Budaya > Seni Rupa
Divisions: Fakultas Bahasa dan Seni > Pendidikan Seni Rupa
Depositing User: pend seni rupa fbs
Date Deposited: 14 Aug 2012 04:46
Last Modified: 14 Aug 2012 04:46
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/4044

Actions (login required)

View Item View Item