PENGARUH VARIASI KONDISI PROSES POLIMERISASI POLIURETAN DARI MINYAK KELAPA SAWIT KASAR DAN METILEN-4,4'-DIFENILDIISOSIANAT (MDI)

Tri , , Wahyuningsih (2010) PENGARUH VARIASI KONDISI PROSES POLIMERISASI POLIURETAN DARI MINYAK KELAPA SAWIT KASAR DAN METILEN-4,4'-DIFENILDIISOSIANAT (MDI). S1 thesis, UNY.

[img] Text
PENGARUH_VARIASI_KONDISI_PROSES_POLIMERISASI_POLIURETAN_DARI_MINYAK_KELAPA_SAWIT_KASAR_DAN_METILEN.docx

Download (11kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi suhu polimerisasi dan lama pengadukan terhadap sintesis poliuretan, menentukan kondisi proses optimum untuk menghasilkan poliuretan dengan sifat lebih baik, mempelajari sifat termal dan mekanik, serta menentukan derajat ikatan silang (crosslink) poliuretan hasil sintesis. Subjek penelitian ini adalah poliuretan hasil sintesis dari minyak kelapa sawit kasar dan metilen-4,4'-difenildiisosianat (MDI), sedangkan objek penelitiannya adalah sifat termal, sifat mekanik, dan derajat ikatan silang poliuretan hasil sintesis. Reaksi polimerisasi dilakukan dengan variasi suhu polimerisasi 15, 25, 35, dan 45°C, serta variasi lama pengadukan 15, 30, 45, dan 60 menit. Reaksi polimerisasi dengan variasi suhu polimerisasi dilakukan pada pengadukan 60 menit, sedangkan variasi lama pengadukan dilakukan pada suhu polimerisasi 45°C. Karakterisasi poliuretan hasil sintesis meliputi analisis gugus fungsi dengan teknik spektroskopi FTIR, sifat termal diukur dengan teknik Differential Thermal Analysis (DTA), sifat mekanik dengan alat Tensille Strength, dan uji derajat ikatan silang melalui penentuan derajat penggembungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu polimerisasi, semakin kental cairan poliuretan yang dihasilkan dan proses pembentukan padatan poliuretan semakin cepat dengan meningkatnya lama pengadukan. Kondisi proses optimum untuk menghasilkan poliuretan dengan bentuk lembaran yaitu pada suhu polimerisasi 45°C dengan lama pengadukan 45 dan 60 menit. Poliuretan hasil sintesis pada suhu 45°C dengan lama pengadukan 45 menit mempunyai suhu dekomposisi 495 °C dan suhu transisi gelas 140°C, sedangkan poliuretan dengan lama pengadukan 60 menit mempunyai suhu dekomposisi 500 °C dan suhu transisi gelas 120 °C. Poliuretan hasil sintesis pada kondisi proses optimum bersifat rapuh, sehingga tidak dapat dilakukan uji mekanik berupa kuat putus clan perpanjangan saat putus. Banyaknya ikatan silang menurun dengan meningkatnya lama pengadukan dan suhu polimerisasi.

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Kimia
Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) > Jurusan Pendidikan Kimia > Kimia
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 09 Aug 2012 03:42
Last Modified: 29 Jan 2019 15:41
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/3600

Actions (login required)

View Item View Item