MANAJEMEN ORGANISASI OLAHRAGA PRESTASI DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Agung, Nugroho A.M (2009) MANAJEMEN ORGANISASI OLAHRAGA PRESTASI DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA. UNY.

[img] Text
MklhManajOr.doc

Download (131kB)

Abstract

Fungsi organisasi dalam membina dan mengembangkan kegiatan olahraga nasional mulai dari lingkup klub sebagai lapisan terbawah sampai ke tingkat Pengurus Besar sebagai lapisan teratas merupakan suatu “Conditio sine qua none” atau suatu keharusan yang mutlak keberadaannya. Lebih dari itu telah disadari semua pihak bahwa organisasi itu sebagai struktur dan proses yang tidak mungkin lagi ditangani secara amatiran, namun harus dikelola oleh orang-orang yang profesional. Jika dilihat dari berbagai teori manajemen terinventarisasi fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut : Planning, Organizing, Coordinating, Motivating, Controlling, Directing, Staffing, Innovation, Representation, Supervising, Communicating, Actuating, Appraising, Commanding, Reporting, Executing, dan Budgeting. Dari sekian banyak fungsi, ada yang memasukkan coordinating sebagai bagian essensial dari organizing, sedangkan communicating ada yang memasukkannya ke dalam motivating, dan reporting hanya sebagai alat kontrol semata bukan merupakan fungsi yang terpisah. Keberhasilan suatu organisasi olahraga prestasi selalu dikaitkan dengan seberapa jauh prestasi olahragawan yang dihasilkan oleh organisasi tersebut. Secara teoritis dapat dikatakan bahwa organisasi olahraga prestasi yang dapat menjalankan fungsi-fungsi manajemen dengan baik dapat diharapkan akan menghasilkan prestasi yang baik pula. Tolok ukur utama prestasi olahraga di Yogyakarta dapat dilihat pada ranking prestasi yang dicapai dalam pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak dari PON I Tahun 1948 di Surakarta sampai dengan PON XV Tahun 2000 di Surabaya ranking kedudukan cenderung menurun prestasinya, namun jika dilihat dari jumlah medali yang dihasilkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Ranking ke-2 adalah ranking tertinggi yang pernah dicapai kontingen DIY, yaitu pada PON I Tahun 1948 di Surakarta. Setelah itu kontingen DIY tidak pernah mencapai urutan ke-6 besar. Ranking terendah terjadi pada PON XII Tahun 1989 di Jakarta, DIY menempati urutan ke-18 dari 27 propinsi se-Indonesia. Prestasi di PON yang terakhir adalah pada PON XV Tahun 2000 di Surabaya dimana DIY menduduki urutan ke-16 dengan 6 medali emas, 12 medali perak, dan 25 medali perunggu. Prestasi seperti ini belum dapat membanggakan masyarakat DIY. Oleh karena itu KONI DIY bertekad untuk memperbaiki ranking prestasinya pada PON yang akan datang secara bertahap. Diharapkan pada PON XVI Tahun 2004 yang akan datang di Palembang, DIY dapat menduduki 10 besar dan pada PON XVII Tahun 2008 di Kalimantan Timur diharapkan bisa ditingkatkan lagi menjadi 8 besar. Untuk mewujudkan cita-cita itu, suatu kajian yang mendasar perlu dilakukan melalui pendekatan penelitian. Dari hasil suatu penelitian yang ilmiah kebijakan yang diambil dalam proses pembinaan ke depan lebih bisa dipertanggungjawabkan. Bertolak dari latar belakang diatas maka disini akan diteliti : “Manajemen Organisasi Olahraga Prestasi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta”, yang akan dilihat kaitannya dengan prestasi olahraga yang dihasilkan.

Item Type: Article
Subjects: Olahraga
Olahraga > Kepelatihan
Divisions: Fakultas Ilmu Keolahragaan > Pendidikan Kepelatihan
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 19 Jun 2012 07:38
Last Modified: 02 Jul 2012 08:41
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/32

Actions (login required)

View Item View Item