MODEL PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP BAGI REMAJA PUTUS SEKOLAH DALAM USAHA HIDUP MANDIRI MELALUI SIBERMAS DI LERENG GUNUNG MERAPI SLEMAN

Widarto, Drs., M.Pd. (2007) MODEL PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP BAGI REMAJA PUTUS SEKOLAH DALAM USAHA HIDUP MANDIRI MELALUI SIBERMAS DI LERENG GUNUNG MERAPI SLEMAN. [Experiment/Research]

[img]
Preview
Text (Dokumen)
Widarto.pdf

Download (11kB) | Preview

Abstract

Kondisi daerah di Purwobinangun dan Girikerto di lereng Gunung Merapi, memiliki karakteristik berbeda dengan desa-desa lainnya. Di kedua desa ini cukup banyak dijumpai remaja putus sekolah. Oleh karena itulah maka di kedua desa itu memiliki potensi yang baik untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan model Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) bagi remaja putus sekolah. Berdasarkan survai awal, data statistik menunjukkan 72,4% lulusan SLTA, 44,4% lulusan SLTP dan 3,6% lulusan SD tidak melanjutkan sekolah. Mereka perlu mendapat perhatian agar tidak menjadi beban masyarakat. Oleh karena itu perlu direncanakan model pendidikan yang dapat mengubah manusia beban menjadi manusia produktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan membangun sikap positif remaja putus sekolah, dan secara khusus menghasilkan model PKH bagi remaja putus sekolah agar mampu hidup mandiri. Untuk memecahkan permasalahan tersebut penelitian ini menawarkan suatu alternatif model PKH bagi remaja putus sekolah melalui sinergi pemberdayaan potensi masyarakat pedesaan (SIBERMAS), dengan empat komponen kecakapan yang dikembangkan, yaitu: (1) kecakapan diri, (2) kecakapan berpikir rasional, (3) kecakapan sosial, dan (4) kecakapan kerja. Teknik pengumpulan data penelitian pada tahun pertama adalah survai, observasi, interview, angket, dan dokumentasi. Pada tahun kedua melalui pendekatan penelitian tindakan (action research), uji coba model, interview, observasi, demonstrasi/pelatihan, pemberian tugas kepada subyek penelitian dan evaluasi. Hasil penelitian tahun pertama diperoleh data dasar permasalahan remaja putus sekolah, dikembangkan model PKH, disusun kurikulum atau modul materi PKH yang meliputi: (1) Kiat Sukses Berwirausaha, (2) Bimbingan Karier, (3) MC Bahasa Jawa, (4) Cetak Sablon, (5) Keterampilan Membuat Kue Berbahan Baku Salak, (6) Dasar-dasar shield metal arc-welding (Keterampilan Las), (7) Keterampilan Menjahit, (8) Keterampilan Teknisi Handphone, dan (9) Keterampilan Service Elektronika. Modul tersebut dilengkapi pula Buku Panduan Pelaksanaan PKH bagi Remaja Putus Sekolah di Wilayah Pedesaan. Selain itu juga dibentuk tim kader dan pelaksana kegiatan. Hasil penelitian tahun kedua dapat dilatih sejumlah 7 orang kader pelaksana program PKH di dua desa. Melalui kader yang telah dilatih dapat dididik sejumlah 71 remaja putus sekolah. Setelah uji coba model dapat diketahui bahwa model yang diujicobakan cukup efektif untuk dilaksanakan. Kendala yang dihadapi adalah masalah keberlanjutan program terkait dengan pendanaan yang harus disediakan. Namun dapat disimpulkan, bahwa model PKH dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai salah satu alternatif penanganan usaha-usaha kesejahteraan sosial di Indonesia. Model ini dalam beberapa hal mampu mendorong masyarakat lebih mandiri dalam mengatasi persoalan-persoalan sosial di pedesaan, sementara di pihak lain remaja putus sekolah sendiri yang semula kurang diperhatikan, dapat dibina menjadi lebih produktif dan mandiri, sehingga sangat berarti bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat di sekitarnya. FT, 2007 (PEND. TEK. MESIN)

Item Type: Experiment/Research
Subjects: Teknik & Teknologi > Teknik Mesin
Divisions: Fakultas Teknik > Jurusan Teknik Mesin > Pendidikan Teknik Mesin
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 07 Aug 2012 23:58
Last Modified: 07 Aug 2012 23:58
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/3145

Actions (login required)

View Item View Item