MEMBANGUN SUMBER DAYA INSANI YANG CERDAS, ARIF DAN BERMORAL

Latief, Dochak (2005) MEMBANGUN SUMBER DAYA INSANI YANG CERDAS, ARIF DAN BERMORAL. In: PIDATO ILMIAH PADA DIES NATALIS XL FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 14 SEPTEMBER 2005.

[img] Other
2. Dochak Latief (2005).rtf

Download (54kB)

Abstract

Sutan Sahrir pada tanggal 14 Agustus 1947 di PBB berpidato yang terkenal bagus, sehingga dikenal sebagai: a. masterpiece of the art of noble diplomacy. Padahal Sutan Sahrir hanya tamatan SMA, tanpa bekal Akademi Dinas Luar Negeri, atau seminar sekalipun (jangan lupa waktu itu di Indonesia sudah banyak juga sarjana-sarjana, priyayi atau dari rakyat). Mengapa Soekarno-Hatta dan sebagainya yang waktu itu masih sangat muda sudah cemerlang penuh keyakinan diri dan mampu meyakinkan para penguasa dalam pentas operasional perjuangan membela rakyat? Bila dibandingkan dengan mahasiswa sekarang yang seusia dengan mereka? Padahal dulu mereka hidup dalam iklim masyarakat terjajah dan produk sekolah penjajah? Mahasiswa sekarang korban sistem pendidikan? Dulu para perintis kemerdekaan dididik oleh penjajah, tetapi digenangi oleh jiwa humaniora dan dilandasi oleh penguasaan bahasa. Mengapa seluruh mutu pendidikan di Indonesia merosot dan murid-murid hanya dapat membeo dan sulit diajak berfikir, berjiwa eksploratif dan kreatif dalam keseimbangan yang integral? Mendiang YB. Mangunwijaya, memberikan beberapa alasan yaitu: bahasa dinomor duakan, dan jurusan bahasa hanya dianggap pantas untuk murid-murid bodoh. Hanya calon beo-beo siap pakai? Siap dipakai oleh... (YB. Mangunwijaya, Pendidikan Manusia Indonesia; Kompas 11 Agustus 1992). Demikianlah, sekedar ilustrasi mengawali tulisan ini. Beberapa nama tokoh yang disebutkan di atas, tentu saja belum bisa dianggap mewakili generasinya, karena mereka adalah tokoh pilihan. Namun secara sederhana mungkin bisa diakui, bahwa tamatan sekolah jaman dulu, sangat mementingkan bahasa Belanda, sebagai bahasa yang turut menentukan dapat bekerja atau tidaknya pada pemerintah Belanda. Selain bahasa, produk sekolah zaman dulu, pada umumnya mempunyai kedisiplinan yang tinggi, sekalipun mungkin diartikan taat dan takut pada atasan. Perubahan masyarakat yang semakin cepat, akan selalu menimbulkan problem, diantaranya karena para guru adalah produk waktu kemarin, kemudian mereka mengajar dan mendidik anak didik masa kini, yang produk pendidikannya menjadi persiapan anak didik untuk hidup di masa datang. Karena itulah, manakala dunia pendidikan tidak mempunyai visi masa depan dengan proyeksi yang relatif tepat, kemungkinan produk pendidikan kita tidak dapat berfungsi dengan baik atau bahkan gagal mempersiapkan mereka untuk hidup di masa datang.

Item Type: Conference or Workshop Item (Speech)
Subjects: Ilmu Sosial > Pendidikan IPS
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan IPS
Depositing User: Admin Pendidikan IPS FIS
Date Deposited: 18 Nov 2015 02:16
Last Modified: 18 Nov 2015 02:16
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/28334

Actions (login required)

View Item View Item