KABUPATEN BANTUL DALAM PELAKSANAAN KEBIJAKAN ROMUSHA (1943-1945)

Asep Edi, Tri Purwanto (2011) KABUPATEN BANTUL DALAM PELAKSANAAN KEBIJAKAN ROMUSHA (1943-1945). S1 thesis, UNY.

[img]
Preview
Text
Skripsi Asep Edi Tri Purwanto.pdf

Download (5MB) | Preview

Abstract

Kabupaten Bantul Dalam Pelaksanaan Kebijakan Romusha (1943-1945) Oleh: Asep Edi Tri Purwanto NIM. 06407141016 Abstrak Bantul merupakan salah satu Kabupaten di Yogyakarta, tepatnya berada di sebelah selatan Yogyakarta. Jepang semenjak menduduki Indonesia mulai menerapkan pemerintahan semi militer. Di berbagai daerah di Jawa dilakukan pengeksploitasian sumber daya yang ada. Pengeksploitasian tersebut untuk mendukung perang Jepang melawan Sekutu. Kebijakan pengerahan romusha dari Bantul menimbulkan dampak yang serius dalam masyarakat pendudukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kondisi Bantul masa pendudukan Jepang, kemudian pelaksanaan romusha, serta dampak yang muncul pada orang-orang romusha dan masyarakat sekitar akibat pelaksanaan kebijakan romusha di Kabupaten Bantul (1943-1945). Penelitian ini menggunakan metode sejarah kritis. Pertama, heuristik dilakukan dengan pencarian dan pengumpulan sumber primer maupun sekunder yang relevan dengan penelitian. Kedua, kritik sumber (verifikasi) dilakukan dengan penilaian dan pengujian terhadap sumber sejarah sehingga dapat ditentukan otentisitas dan kredibelitas sumber sejarah untuk memperoleh fakta sejarah. Ketiga, interpretasi dilakukan dengan menafsirkan, menganalisis, dan menghubungkan fakta-fakta sejarah. Keempat, sintesis dilakukan dengan menyusun secara teratur, sistematis, dan kronologis fakta-fakta sejarah sehingga membetuk bangunan cerita yang dapat dimengerti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Bantul pada masa pendudukan Jepang (1943-1945) adalah daerah yang penduduknya dalam mata pencarahariannya sebagai petani, serta sebagai buruh. Pada masa pemerintahan Jepang penduduk dididik untuk menjadi pasukan militer seperti heiho, kaygun, kaybodan dan lain sebagainya. Tercatat 150 penduduk Bantul yang masuk menjadi romusha, baik secara paksa maupun suka rela. Pemuda desa diwajibkan untuk direkrut menjadi romusha, serta dalam satu keluarga wajib menyerahkan satu anggota keluarganya untuk menjadi romusha, bagi yang melawan akan dihukum. Sebagai dampak dari perekrutan romusha itu menyebabkan perekonomian Bantul menurun. Kelangkaan kebutuhan makanan telah memperkenalkan makanan baru seperti oyek, iles-iles, daun kremah, bekicot, dendeng dan gudik (makanan untuk bebek). Masyarakat Bantul mengalami gizi buruk, dan meninggal karena penyakit yang diderita ketika di tempat pengerahan. Di bidang sosial, hubungan masyarakat dengan perangkat desa merenggang. Penduduk Bantul rata-rata meninggal karena mewabahnya berbagai penyakit, baik itu penyakit kulit maupun penyakit dalam seperti malaria. Kondisi psikologis menjadi terganggu, rasa dendam tertanam dalam diri masyarakat. Perlakuan atasan mereka yang kejam dan seenaknya adalah faktor yang membangkitkan rasa dendam dan takut terhadap lurah

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Ilmu Sosial > Sejarah
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial > Ilmu Sejarah
Depositing User: Admin Pendidikan Sejarah FIS
Date Deposited: 28 Jun 2015 21:33
Last Modified: 28 Jun 2015 21:33
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/21699

Actions (login required)

View Item View Item