FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI EKSISTENSI BUDAYA JATHILAN (ANALISIS DI DESA BAGUSAN,KECAMATAN SELOPAMPANG,KABUPATEN TEMANGGUNG)

Oktaviyanti, Nur (2015) FAKTOR-FAKTOR YANG MELATARBELAKANGI EKSISTENSI BUDAYA JATHILAN (ANALISIS DI DESA BAGUSAN,KECAMATAN SELOPAMPANG,KABUPATEN TEMANGGUNG). S1 thesis, Fakultas Ilmu Sosial.

[img] Other (FIS Digital)
Skripsi_10413244005.swf - Published Version

Download (2MB)

Abstract

Setiap daerah memiliki budaya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Saat ini budaya-budaya yang ada semakin terkikis dan hilang. Meskipun demikian, masih ada budaya yang tetap bertahan atau eksis. Salah satu daerah yang masih mempertahankan budayanya yaitu Temanggung dengan budaya jathilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi eksistensi budaya jathilan. Penelitian ini dilakukan di salah satu daerah di Temanggung, dimana eksistensi jathilan masih tetap terjaga dan diakui masyarakat luas yaitu di Desa Bagusan, Kecamatan Selopampang. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Informan dari penelitian ini adalah penonton jathilan, penanggap jathilan, dan anggota dari kelompok jathilan Desa Bagusan. Proses pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah sampel bertujuan (purposive sampling) dan snowball sampling. Validitas data menggunakan teknik triangulasi sumber. Teknik dalam melakukan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang melatarbelakangi eksistensi budaya jathilan, yaitu: pelestarian yang dilakukan masyarakat, nilai estetika yang terdapat dalam pertunjukan jathilan, dan jathilan yang dijadikan sebagai media hiburan. Pertama, masyarakat Bagusan ingin melestarikan budaya jathilan, pelestarian jathilan terkait dengan partisipasi yang dilakukan. Partisipasi dilakukan oleh berbagai pihak, anggota kelompok, yaitu dengan mengembangkan bakat dalam menari dan bermusik, mempublikasikan jathilan, dan melakukan regenerasi. Penanggap dengan menanggap jathilan untuk acara yang diselenggarakan. Penonton melakukan partisipasi emosional dengan memberi dukungan, dan juga sebagai pengamat yang memberikan evaluasi. Pemerintah desa berpartisipasi dalam hal dana dan memberi wadah untuk melakukan evaluasi. Masyarakat umum memberi bantuan dana, serta pihak lain berpartisipasi dalam hal dana. Kedua, nilai estetika yang terdapat dalam musik, tari, dan simbol-simbol yang mengarah pada in trance, membuat masyarakat menyukai pertunjukan jathilan. Ketiga, jathilan dijadikan sebagai media hiburan, aktivitas masyarakat sibuk bekerja sehingga menjadikan jathilan sebagai tontonan utama yang menghibur. Kata kunci: jathilan, pelestarian, estetika, hiburan

Item Type: Thesis (S1)
Subjects: Umum > Penelitian
Ilmu Sosial > Sosiologi Antropologi
Divisions: Fakultas Ilmu Sosial > Pendidikan Sosiologi
Depositing User: Admin Pendidikan Sosiologi FIS
Date Deposited: 27 May 2015 04:19
Last Modified: 29 Jan 2019 22:53
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/19520

Actions (login required)

View Item View Item