SINTESA SENYAWA 2,5-BIS(4-HIDROKSI-3-METOKSIBENZILIDIN) SIKLOPENTANON DENGAN VARIASI JENIS PELARUT

Ari, Simbara and Sardjiman, - and Nurhasanah, - (2005) SINTESA SENYAWA 2,5-BIS(4-HIDROKSI-3-METOKSIBENZILIDIN) SIKLOPENTANON DENGAN VARIASI JENIS PELARUT. Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan & Penerapan MIPA 2005. ISSN 979-96880-4-3

[img]
Preview
Text
09_Sintesa Senyawa 2,5-Bis..... (Ari Simbara, Sardjiman, & Nurkhasanah).pdf

Download (202kB) | Preview
Official URL: http://fmipa.uny.ac.id

Abstract

Sejumlah senyawa turunan kurkumin telah berhasil disintesa satu diantaranya adalah senyawa 2,5-bis(4-hidroksi-3-metoksibenzilidin) siklopentanon. Optimasi sintesa senyawa 2,5-bis(4-hidroksi-3- metoksibenzilidin) siklopentanon perlu dilakukan agar diperoleh metode sintesa yang lebih efektif dan efisien. Oleh karena itu, dilakukan penelitian sintesa senyawa 2,5-bis(4-hidroksi-3-metoksibenzilidin) siklopentanon dengan variasi jenis pelarut dan menggunakan katalis asam sulfat pekat. Sintesa tersebut dilakukan dengan memodifikasi metode Sardjiman, yaitu dengan cara mengkondensasi vanillin teknis (kadar 99,84%) dan siklopentanon p.a dalam suasanan asam dengan berbagai variasi jenis pelarut alkohol. Pelarut alkohol yang digunakan yaitu: 1-propanol, 2-propanol, 1-butanol dan 2-butanol. Pemurnian senyawa hasil sintesa dilakukan dengan cara rekristalisasi menggunakan pelarut aseton-air (1 : 2). Kemurnian hasil sintesa ditetapkan berdasarkan titik lebur dan kromatografi lapis tipis. Identifikasi struktur senyawa hasil sintesa secara kualitatif menggunakan spektometri meliputi spektroskopi -1 1inframerah (cm , KBr) dan spektroskopi resonansi magnetik inti (δ, ppm. DMSO-d6, H NMR).Hasil sintesa yang dilakukan menggunakan variasi pelarut alkohol 1-propanol, 2-propanol, 1-butanol dan 2- butanol diperoleh rendemen rata-rata secara berturut-turut 73.32%, 58.31%, 67.66% dan 58.92%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sintesa dengan menggunakan pelarut alkohol primer lebih optimal dibandingkan dengan menggunakan pelarut alkohol sekunder. Hal ini berkaitan dengan hambatan sterik yang lebih kecil pada alkohol primer dibandingkan alkohol sekunder. Semakin kurang sterik struktur suatu pelarut maka semakin mudah pelarut tersebut melepaskan protonnya untuk terjadinya ikatan hidrogen dengan air ketika peristiwa dehidrasi terjadi pada pembentukan senyawa tersebut.

Item Type: Article
Uncontrolled Keywords: Sintesa, turunan kurkumin, pelarut alkohol
Subjects: Prosiding > Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA 2005
Divisions: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam > Jurusan Pendidikan Kimia
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 20 Jan 2015 07:17
Last Modified: 20 Jan 2015 07:17
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/11715

Actions (login required)

View Item View Item