%A Era Mutiara %A Suranto Suranto %K evaluasi, pendidikan inklusif, pendidikan multikultural, SDGs %D 2026 %T Evaluasi Kebijakan Pendidikan Inklusif Dan Multikultural Untuk Mendukung Ketercapaian Tujuan SDGs Ke-4 dan Ke-16 di Sekolah Tumbuh. %X Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi context, input, process, dan product kebijakan pendidikan inklusif dan multikultural untuk mendukung ketercapaian tujuan SDGs Ke-4 dan Ke-16 serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya di Sekolah Tumbuh. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang menggunakan model evaluasi CIPP dengan pendekatan concurent embeded. Evaluasi dilaksanakan di SD Tumbuh, SMP Tumbuh dan SMA Tumbuh. Responden sekaligus informan dalam penelitian ini melibatkan tiga kepala sekolah, dua supporting educator, dan empat educator. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket, studi dokumen, dan wawancara dengan pengharkatan skala Likert. Uji validitas isi menggunakan formula Aiken’s V, uji validitas konstruk menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan uji reliabilitas menggunakan Cronbach α dengan hasil angket pendidikan inklusif diperoleh nilai sebesar 0,96 sedangkan untuk angket pendidikan multikultural sebesar 0,95. Teknik analisis data deskriptif digunakan untuk data kuantitatif, sedangkan analisis naratif digunakan untuk data kualitatif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada komponen context, kebijakan pendidikan inklusif dan multikultural di Sekolah Tumbuh telah tersusun dengan baik, meskipun aspek kerja sama eksternal dan indikator multikultural masih memerlukan penguatan. Pada komponen input, sekolah telah menyiapkan kurikulum adaptif yang mengintegrasikan kurikulum nasional dan internasional, sumber daya manusia yang kompeten dengan dukungan supporting educator, serta sarana prasarana yang relatif memadai dan aksesibel, meskipun pelatihan guru dan fasilitas khusus masih perlu ditingkatkan. Komponen process memperlihatkan bahwa implementasi kebijakan berjalan konsisten, strategi pembelajaran berbasis Universal Design for Learning dan differentiated instruction, serta kegiatan multikultural lintas agama dan budaya, walaupun tantangan tetap ada berupa stigma orang tua dan kebijakan eksternal yang menyeragamkan. Sementara itu, komponen product menunjukkan keluaran yang signifikan berupa peningkatan sikap toleran, inklusif, kompetensi global, capaian akademik dan non akademik serta kepedulian lingkungan peserta didik yang berkontribusi pada SDGs. Faktor pendukung pelaksanaan kebijakan ini adalah semangat kelembagaan yang menjadikan inklusi dan multikulturalisme sebagai “nyawa sekolah”, adanya supporting educator, kerja sama dengan CSIE, serta budaya sekolah yang terbuka dan toleran. Hambatan utama berasal dari stigma orang tua dan kebijakan eksternal yang kurang selaras dengan prinsip inklusi di sekolah. Rekomendasi evaluasi menekankan perlunya penguatan kerja sama eksternal dengan lembaga terkait, peningkatan pelatihan guru yang lebih spesifik untuk menangani kebutuhan beragam siswa, serta pengembangan fasilitas yang lebih adaptif agar kebijakan inklusif dan multikultural dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. %L UNY91773 %I Sekolah Pascasarjana