<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Studi Fenomenologi :Makna Pengalaman Mengajar Guru Vokasional Tata Boga dalam Mengembangkan Kemandirian Siswa dengan Hambatan Pendengaran di SLB N 1 Bantul, SLB N 2 Bantul, dan SLB N 1&#13;
Kulonprogo.</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Eka</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rachmawati</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Pardjono</mods:namePart><mods:namePart type="family">Pardjono</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan mengungkapkan (1) mengungkap dampak&#13;
pengalaman mengajar guru vokasional di SLB dalam mengajar keterampilan Tata&#13;
Boga pada siswa dengan hambatan pendengaran terhadap kapasitas mengajar, 2)&#13;
mengungkap guru Vokasional Tata Boga SLB menyesuaikan perannya ketika&#13;
mengajar untuk melaksanakan strategi pembelajaran pengembangan kemandirian&#13;
siswa dengan hambatan pendengaran, dan (3) mengungkap perbedaan latar&#13;
belakang pendidikan khusus dan non pendidikan khusus dari guru vokasional tata&#13;
boga di SLB berdampak pada pengembangan profesionalisme.&#13;
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan&#13;
fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara&#13;
mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian adalah enam orang guru&#13;
vokasional Tata Boga dan khusus yang dipilih berdasarkan pada kapabilitas untuk&#13;
memberikan informasi yang diperlukan terkait fenomena yang diteliti. Analisis&#13;
data dilakukan dengan tahap awal, horizonalization, cluster of meaning, deskripsiesensi,&#13;
dan pelaporan.&#13;
Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Pengalaman guru vokasional di&#13;
SLB dalam mengajar keterampilan Tata Boga berdampak pada pemaknaan guru&#13;
terhadap profesi guru Tata Boga bagi siswa dengan hambatan pendengaran bahwa&#13;
guru dipandang sebagai panggilan jiwa, peningkatan penghayatan terhadap profesi&#13;
guru sebagai pendidik, guru Tata Boga SLB sebagai profesi mulia, guru SLB&#13;
sebagai tugas pengabdian dengan penuh dedikasi, semangat dan komitmen pada&#13;
tercapainya kemandirian siswa, dan empati terhadap kesulitan siswa dengan&#13;
hambatan pendengaran dalam pembelajaran keterampilan Tata Boga. Pengalaman&#13;
guru Tata Boga SLB juga berdampak pada peningkatan pengetahuan dan&#13;
keterampilan empirik dalam mengajar siswa berkebutuhan yang dapat&#13;
meningkatkan kapasitasnya dalam menghasilkan kualitas pembelajaran.&#13;
Pengalaman mengajar guru berdampak pada peningkatan kepercayaan diri,&#13;
kepribadian yang hangat, ulet dan tidak mudah menyerah serta tidak mudah marah,&#13;
penyayang, memiliki kepedulian, sabar, dan mampu membangun hubungan&#13;
komunikasi dengan siswa dengan hambatan pendengaran. 2) Pengalaman Guru&#13;
vokasional Tata Boga dalam mengajar SLB, menemukan strategi dalam&#13;
mengembangkan kemandirian, yaitu dengan membiasakan gerak bibir,&#13;
mengembangan kepercayaan diri siswa, kolaborasi dengan sejawat (tutor sebaya),&#13;
mengarahkan untuk mencoba hal yang baru, melakukan praktik individu, membuat&#13;
lingkungan terbuka, memberikan rewards, melaksanakan pembelajaran&#13;
menyenangkan, dan melakukan kerjasama dengan guru dan orang tua. Untuk dapat&#13;
melakukan strategi-strategi mengajar maka ada peran guru yang selaras, yaitu&#13;
sebagai sejawat siswa, mentor, role model, konselor, pembelajar, pencipta,&#13;
fasilitator, dan sebagai inspirator. (3) Latar belakang pendidikan guru vokasional&#13;
tata boga tidak berdampak pada profesionalisme guru dalam mengajar siswa&#13;
berkebutuhan khusus dengan hambatan pendengaran. Hal ini dikarenakan adanya&#13;
kerjasama dan saling membantu satu sama lain dalam menghadapi tantangan&#13;
masing-masing. Guru yang memiliki latar belakang pendidikan khusus lebih&#13;
matang dalam meregulasi emosi. Guru Tata Boga yang tidak memiliki latar&#13;
belakang pendidikan khusus mampu beradapatasi dengan lingkungan SLB setelah&#13;
memiliki pengalaman mengajar minimal 3 tahun.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Pendidikan Kejuruan</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Pendidikan Luar Biasa</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Teknik Boga dan Busana</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-09-27</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekolah Pascasarjana;Pendidikan Teknologi dan Kejuruan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>