@phdthesis{UNY91157, year = {2025}, title = {TRANSMISI NILAI-NILAI MORAL DARI IBU KEPADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS TUNADAKSA DALAM AKTIVITAS PENGASUHAN}, author = {Muhammad Sani Roehan}, school = {Fakultas Psikologi}, abstract = {Fenomena kemerosotan moralitas di era modern ditandai dengan meningkatnya kejahatan, kekerasan dan isolasi sosial akibat pengaruh teknologi digital, globalisasi budaya, serta kebutaan moral individu, telah mengancam pembentukan karakter generasi muda, khususnya ABK tunadaksa. ABK tunadaksa sering kali menghadapi stigma diskriminatif dan kurangnya akses pendidikan inklusif, yang memperburuk kesulitan dalam memahami norma sosial dan mengembangkan empati, kejujuran, serta tanggung jawab. Kondisi ini menuntut peran aktif ibu sebagai pengasuh primer dalam mentransmisikan nilai moral melalui interaksi sehari-hari, guna mencegah generasi ini terjebak dalam siklus penyimpangan etis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi strategi pengasuhan ibu dalam mentransmisikan nilai moral ABK tunadaksa, serta menganalisis faktor keberhasilan dan hambatan yang memengaruhi proses tersebut. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multiple case study diterapkan untuk mengeksplorasi fenomena transmisi nilai moral secara mendalam. Penelitian dilakukan di empat sekolah luar biasa di Banyumas, Purbalingga, dan Yogyakarta dengan melibatkan tujuh ibu sebagai subjek utama, empat wali kelas, dan empat kepala sekolah sebagai informan pendukung. Sumber data primer diperoleh dari wawancara mendalam dengan subjek, sementara sumber data sekunder berasal dari dokumen sekolah seperti laporan perkembangan anak dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Analisis data dilakukan melalui explanation building untuk mengembangkan penjelasan mendalam tentang kasus-kasus, serta cross-case synthesis untuk mengidentifikasi pola dan perbandingan antar kasus. Strategi pengasuhan ibu meliputi identifikasi nilai moral spesifik, metode habituasi, komunikasi dialogis, dan adaptasi terhadap karakteristik anak, dengan pembimbingan dalam situasi kompleks melalui kesabaran dan penguatan emosional. Faktor keberhasilan ditentukan oleh kapasitas internal ibu seperti penerimaan kondisi anak, dukungan emosional, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan serta lingkungan sosial, sementara hambatan meliputi stigma sosial, keterbatasan sumber daya, dan pengaruh media digital. Analisis per unit analisis menunjukkan variasi: di Banyumas, ibu berhasil melalui habituasi harian dengan dukungan sekolah; di Purbalingga, adaptasi fisik anak menjadi kunci meski sumber daya terbatas; di Yogyakarta, integrasi empati inklusif mengatasi hambatan digital. Simpulan menunjukkan bahwa transmisi nilai moral berhasil melalui sinergi antara rumah, sekolah, dan masyarakat, dengan ibu sebagai agen utama yang mendukung perkembangan karakter anak berkebutuhan khusus tunadaksa. Saran meliputi penguatan program kolaborasi antar pihak, pengembangan panduan pengasuhan spesifik, serta integrasi hasil studi kasus per unit analisis untuk memperkaya pemahaman kontekstual dan mendukung kebijakan inklusi pendidikan.}, url = {http://eprints.uny.ac.id/91157/}, keywords = {ABK tunadaksa, Ibu, Moral, Pengasuhan, Transmisi.} }