<mods:mods version="3.3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-3.xsd" xmlns:mods="http://www.loc.gov/mods/v3" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance"><mods:titleInfo><mods:title>Penerapan Multiple Intelligences di Sekolah Multikultural.</mods:title></mods:titleInfo><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Baik Nurul</mods:namePart><mods:namePart type="family">Husna</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:name type="personal"><mods:namePart type="given">Arif</mods:namePart><mods:namePart type="family">Rohman</mods:namePart><mods:role><mods:roleTerm type="text">author</mods:roleTerm></mods:role></mods:name><mods:abstract>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan multiple &#13;
intelligences di sekolah multikultural, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi &#13;
dalam proses implementasinya, dan menemukan solusi yang dilakukan sekolah &#13;
untuk mengatasi hambatan tersebut. Latar belakang penelitian berangkat dari &#13;
kesenjangan antara gagasan multiple intelligences yang menghargai keragaman &#13;
potensi siswa dan praktik pendidikan multikultural yang menekankan penerimaan &#13;
identitas budaya, namun keduanya sering diterapkan secara terpisah. Dengan &#13;
demikian, penelitian ini berupaya menggali hubungan keduanya dalam konteks &#13;
pendidikan Indonesia yang memiliki karakter masyarakat majemuk, sekaligus &#13;
memberikan kontribusi teoretis dan praktis dalam pengembangan paradigma &#13;
pendidikan yang lebih humanis, inklusif, dan responsif terhadap keberagaman.&#13;
Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi &#13;
kasus ini dilakukan di tiga sekolah multikultural, yakni SMP School of Human &#13;
Bekasi, SMP Nasional Plus Tunas Global Depok, dan SMP Sekolah Alam Cikeas &#13;
Bogor. Ketiga sekolah tersebut merupakan sekolah multikultural yang sudah &#13;
menerapkan pendekatan multiple intelligences. Data diperoleh melalui observasi&#13;
lingkungan belajar, wawancara dengan kepala sekolah, wakil bidang kurikulum, &#13;
dan tiga guru mata pelajaran, angket untuk delapan siswa kelas VIII atau IX, dan &#13;
dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui kondensasi, penyajian data, dan &#13;
penarikan kesimpulan. Guru dan kepala sekolah, menjadi sumber primer penelitian, &#13;
sedangkan dokumen kebijakan sekolah, perangkat kurikulum, hasil kuisioner siswa, &#13;
dan hasil observasi lingkungan belajar menjadi sumber sekunder.&#13;
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan multiple intelligences di tiga &#13;
sekolah multikultural tidak seragam. Penerapan multiple intelligences di ketiga &#13;
sekolah tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Penerapan secara deklaratif&#13;
ditemukan di SMP School of Human di mana penggunaan multiple intelligences &#13;
dimulai dari dicantumkannya program tersebut dalam dokumen kurikulum sekolah &#13;
dan menjadi landasan setiap kegiatan. Penerapan secara integratif ditemukan pada &#13;
SMP Nasional Plus Tunas Global. Sekolah menerapkan multiple intelligences &#13;
dalam praktik pembelajaran, baik perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi, &#13;
tetapi kebijakannya tidak tercantum secara eksplisit dalam kurikulum sekolah. &#13;
Penerapan ini sebagai bagian dari pengakuan keberagaman siswa yang menjadi &#13;
branding dasar sekolah tersebut. Penerapan secara instrumental ditemukan di SMP &#13;
Sekolah Alam Cikeas. Penggunaan multiple intelligences menjadi salah satu &#13;
instrument untuk mendukung brand sekolah yang mengusung penguatan karakter &#13;
dan kepemimpinan. Adapun tantangan utama penerapan multiple intelligences di &#13;
tiga sekolah berasal dari sumber internal berupa kompetensi guru dan karakteristik &#13;
siswa dan sumber eksternal berupa preferensi orang tua. Namun demikian, sekolah &#13;
menerapkan berbagai solusi seperti pengembangan kompetensi guru, pembelajaran &#13;
berbasis proyek, penguatan budaya sekolah, fleksibilitas kurikulum, dan kolaborasi &#13;
antara sekolah dengan orang tua dan komunitas lainnya. Penelitian ini &#13;
menyimpulkan bahwa penerapan multiple intelligences dalam konteks &#13;
multikultural tidak hanya ditentukan oleh dokumen kebijakan, tetapi juga oleh &#13;
kesadaran pedagogis guru, budaya sekolah, dan dukungan struktural yang &#13;
memfasilitasi keberagaman. Untuk kajian berikutnya, perlu adanya penelitian &#13;
pengembangan pedoman implementasi praktis, peningkatan literasi pedagogis guru, &#13;
kebijakan pendidikan yang fleksibel, serta penelitian lanjutan mengenai integrasi &#13;
teori ini pada konteks budaya yang lebih luas.</mods:abstract><mods:classification authority="lcc">Pendidikan (Umum)</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Pendidikan Menengah</mods:classification><mods:classification authority="lcc">Pasca Sarjana</mods:classification><mods:originInfo><mods:dateIssued encoding="iso8061">2026-01-29</mods:dateIssued></mods:originInfo><mods:originInfo><mods:publisher>Sekolah Pascasarjana;Ilmu Pendidikan</mods:publisher></mods:originInfo><mods:genre>Thesis</mods:genre></mods:mods>