%0 Thesis %9 S3 %A Marwanto, Marwanto %A Suwardi, Suwardi %B Ilmu Pendidikan %D 2025 %F UNY:88256 %I Sekolah Pascasarjana %K bedhaya mintaraga, hermeneutik, mesu budi, ngelmu rasa %T Ajaran Ngelmu Rasa Tari Bedhaya Mintaraga Yasan Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 dalam Perspektif Hermeneutik %U http://eprints.uny.ac.id/88256/ %X Penelitian ini bertujuan mengungkap (1) ajaran ngelmu rasa dalam tari Bedhaya Mintaraga, (2) relevansi dan transformasi ajaran ngelmu rasa untuk masyarakat, (3) potensi Tari Bedhaya Mintaraga sebagai media pepeling atau piwulang, dan (4) harapan Ngersa Dalem dengan pementasan Tari Lenggahing Harjuno Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersandar pada hermeneutik Hans George Gadamer. Sumber datanya adalah Tari Bedhaya Mintaraga yang dipentaskan di Bangsal Kepatihan dalam rangka Catur Sagatra tanggal 22 Juli 2022. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara yang utama adalah dengan Ngersa Dalem Sri Sultan Hamengku Bawono Ka-10 selaku koreografer dan mengamati video pementasan Tari Bedhaya Mintaraga. Kredibilitas data diperoleh dengan ketekunan pengamatan, triangulasi metode dan triangulasi sumber serta kecukupan referensi. Keabsahan data dilakukan dengan credibility, transferability, dependability, confirmability, dan authenticity. Analisis data dilakukan dengan menggunakan hermeneutika fenomenologis, yaitu: koherensi, kekomprehensifan, penetrasi, ketepatan, dan kontekstualitas. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Ajaran ngelmu rasa dalam tari Bedhaya Mintaraga adalah mesu budi yaitu pengendalian diri dari hawa nafsu yang berasal dari sembilan lubang yang ada di tubuh manusia. (2). Relevansi dan transformasi ajaran ngelmu rasa untuk masyarakat. Relevansi adalah agar bersabar, Sedangkan transformasinya adalah dengan mempertimbangkan terlebih dahulu perbuatan yang akan dilakukan. (3).Tari Bedhaya Mintaraga sebagai media pepeling atau piwulang tentang sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula gusti, yang juga tersirat di dalam tembang macapat, pitutur luhur, dan filosofi arti bangunan Kraton Yogyakarta. (4) Harapan Ngersa Dalem dengan pementasan Tari Lenggahing Harjuno (a) catur sagatra, dapat mengumpulkan kembali empat kerajaan Islam Mataram Sagatra menjadi Sagotrah, (b) Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat diharapkan dapat menjaga nilai rasa, dengan bersikap ririh (hati-hati, mawas diri), rereh (sabar, mampu mengekang diri), ruruh (tenang), sumarah (pasrah), lila legawa (tulus ikhlas), dan menep (mampu mengendalikan diri, tenang), (c) karya￾karya beliau selanjutnya bisa lebih transenden lagi. Novelty di dalam penelitian ini meliputi: penokohan peran, aktualisasi diri, kepemimpinan, kain kampuh, pusaka, iringan bernada slendro, monggang, pematangan jiwa, dan manusia ideal Jawa.