PENGUKURAN KETERAMPILAN PROSES SAINS POLA DIVERGEN DALAM MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA Di PROVINSI DIY DAN JAWA TENGAH

Bambang , Subali (2011) PENGUKURAN KETERAMPILAN PROSES SAINS POLA DIVERGEN DALAM MATA PELAJARAN BIOLOGI SMA Di PROVINSI DIY DAN JAWA TENGAH. S2 thesis, UNY.

[img]
Preview
Text
Desertasi_bambang.pdf

Download (20kB) | Preview

Abstract

Bambang Subali: Pengukuran Keterampilan Proses Sains Pola Divergen Dalam Mata Pelajaran Biologi SMA di Provinsi DIY dan Jawa Tengah. Disertasi. Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, 2009. Penelitian ini bertujuan mengetahui penguasaan berpikir pola divergen keterampilan proses sains mata pelajaran Biologi SMA, meliputi keterampilan dasar, keterampilan mengolah, dan keterampilan melakukan investigasi. Penelitian melalui dua tahapan, yakni tahap pengembangan instrumen—yang disertai uji coba untuk memperoleh bukti empiris, dan tahap pengukuran. Penyusunan instrumen didahului dengan penyusunan abstract continuum berupa rumusan learning continuum keterampilan proses sains untuk rujukan penyusunan kisi-kisi item pengukur kemampuan berpikir divergen. Learning continuum, kisi-kisi item, dan itemnya ditelaah melalui focus group discusion. Tes untuk uji coba terdiri atas enam perangkat subtes dilengkapi anchor item pada tiap subtes. Tes untuk tahap pengukuran terdiri atas empat perangkat subtes juga dilengkapi dengan anchor item pada tiap subtes. Tes untuk tahap pengukuran dikemas menggunakan item yang terbukti fit dengan model pada uji coba. Masing-masing perangkat tes memuat 20% anchor item untuk equating. Uji coba menggunakan sampel minimal 250 dan untuk tahap pengukuran menggunakan minimum 500. Data politomus tiga kategori dianalisis mengikuti Partial Credit Model dan data dikotomus dianalisis mengikuti Rasch Model menggunakan program QUEST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek dan subaspek keterampilan proses sains yang ada di dalam rumusan learning continuum tidak semuanya ada dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar dari standar isi mata pelajaran Biologi SMA. Hasil uji coba dan tahap pengukuran menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria mean INFIT MNSQ 1,0 dan simpangan baku 0,0 tes terbukti fit dengan Pratial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan tes fit dengan Rasch Model untuk data dikotomus. Berdasarkan kriteria batas terendah dan tertinggi INFIT MNSQ sebesar 0,77 dan 1,30 ada tiga dari seluruh item tes uji coba, sebanyak 126 item, tidak fit dengan Partial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan ada dua dari seluruh item tes tidak fit dengan model Rasch untuk data dikotomus. Berdasarkan kriteria yang sama, seluruh item tes tahap pengukuran (85 item) fit dengan Partial Credit Model untuk data politomus tiga kategori, dan seluruh item tes fit dengan model Rasch untuk data dikotomus. Reliabilitas tes uji coba dan tes tahap pengukuran terutama untuk data politomus tiga kategori cukup baik. Pada uji coba, koefisien alpha Cronbach 0,31 dan indeks sparasi person 0,71. Pada tahap pengukuran, koefisien alpha Cronbach 0,33 dan indeks sparasi person 0,71. Reliabilitas tes uji coba dan tes tahap pengukuran untuk data dikotomus juga cukup baik. Pada uji coba, koefisien KR-20 0,45 dan indeks sparasi person 0,60. Pada tahap pengukuran, koefisien KR-20 0,42 dan indeks sparasi person 0,54. Skor keterampilan proses sains pola divergen terendah -,352 dan tertinggi +1,21 dari rentang ideal -4,0 sampai +4,0. Rata-rata skor untuk aspek keterampilan dasar -0,78, untuk aspek keterampilan mengolah/memroses +0,01, dan aspek melakukan investigasi +0,93. Dalam pola divergen, keterampilan merekam iv data/informasi merupakan keterampilan dasar yang tersukar, sedangkan yang termudah adalah keterampilan melakukan pengamatan. Keterampilan membuat inferensi merupakan keterampilan tersukar dalam keterampilan mengolah, sedangkan yang termudah adalah keterampilan membuat prediksi. Keterampilan melakukan investigasi menunjukkan skor terendah sampai skor tertinggi berturut-turut adalah dalam hal merancang investigasi, melaksanakan investigasi, dan melaporkan hasil investigasi. Secara keseluruhan skor testi jauh dari memuaskan. Hanya 22% testi yang berada di atas nilai tengah yang diharapkan untuk data politomus tiga kategori menurut Partial Credit Model. Presentase testi yang berada di atas nilai tengah yang diharapkan tinggal 1,17% untuk data dikotomus menurut Rasch Model. Hal tersebut menunjukkan kurve distrubusi skor testi melandai ke arah kanan. Kemungkinan besar karena peserta didik kurang dilatih melaksanakan keterampilan proses sains untuk menemukan konsep dan tidak biasa mengerjakan tes uraian nonobjektif. Skor keterampilan proses sains dengan penskalaan politomus tiga kategori menunjukkan bahwa peserta didik kelas XI IPA memiliki skor tertinggi, diikuti dengan peserta didik kelas X dan kelas XII IPA. Dari 13 SMA yang diuji hanya ada empat SMA yang menunjukkan skor terendah pada peserta didik kelas X, diikuti dengan skor kelas XII IPA sama atau lebih tiggi dari kelas XI IPA. Ketidaksiapan peserta didik kelas XII dan cara pandang mereka terhadap tes diduga sebagai faktor penyebab. Implikasi penelitian bagi peneliti bahwa rumusan learning continuum keterampilan proses sains yang sudah divalidasi melalui expert judgement dapat dibuat abstract continuum untuk melakukan pengukuran penguasaan keterampilan proses sains, baik dalam pola konvergen maupun divergen mata pelajaran IPA pada jenjang SD/MI dan SMP/MTs, mata pelajaran Biologi maupun mata pelajaran Fisika dan Kimia pada jenjang SMA/SMK SLTA, juga untuk mata kuliah rumpun IPA di perguruan tinggi. Implikasi bagi guru dapat menerapkan pengukuran keterampilan proses sains untuk dasar penyelenggaraan assessment for learning. Pengukuran keterampilan proses sains pola divergen pada tigabelas SMA tertunjuk hanya untuk mengetahui keberfungsian tes yang sudah dikembangkan, yang telah memiliki bukti empirik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui penguasaan keterampilan proses sains dalam rangka pembandingan antar tempat maupun antar tahun dengan sampel yang representatif. Penelitian lanjutan juga dapat dilakukan untuk mengetahui keterkaitan antara penguasaan keterampilan proses sains dengan strategi pembelajaran yang dikenakan dalam mata pelajaran Biologi.

Item Type: Thesis (S2)
Subjects: Pasca Sarjana
Divisions: Program Pasca Sarjana
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 29 Aug 2012 16:30
Last Modified: 29 Aug 2012 16:30
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/4541

Actions (login required)

View Item View Item