METODE PEMBELAJARAN PENCAK SILAT BAGI ANAK SEKOLAH DASAR

Agung Nugroho, A.M, Agung Nugroho, A.M (2010) METODE PEMBELAJARAN PENCAK SILAT BAGI ANAK SEKOLAH DASAR. uny. (Unpublished)

[img] Text
Metode_Pembelajaran_PS-1.doc

Download (210kB)

Abstract

METODE PEMBELAJARAN PENCAK SILAT BAGI ANAK SEKOLAH DASAR Oleh: Agung Nugroho, A.M. Dosen Jurusan Pendidikan Kepelatihan FIK UNY ABSTRAK Pencak silat merupakan cabang olahraga yang memiliki teknik kompleks sehingga memerlukan koordinasi yang baik khususnya dalam mengajar siswa Sekolah Dasar. Oleh karena itu guru perlu mengetahui metode pembelajaran yang tepat dan benar untuk mengajarkan siswa yang masih memiliki koordinasi lemah. Siswa yang baru belajar pencak silat sering mengalami kesulitan bila langsung diajar teknik pukulan, tendangan, maupun jatuhan tanpa diberikan sikap dan gerak dasar terlebih dahulu. Untuk itu perlu pembentukan sikap dan gerak bagi siswa dalam bentuk permainan. Metode pembelajaran pencak silat yang perlu disampaikan adalah: (1) prinsip-prinsip pembelajaran, (2) susunan dalam pembelajaran, dan (3) bentuk-bentuk pembelajaran. Kata Kunci: metode, pembelajaran, pencak silat Pencak silat merupakan cabang olahraga beladiri yang sudah berkembang di berbagai sekolah dari tingkat SD, SMP, maupun SMU. Hal ini memacu banyaknya pertandingan pencak silat di tingkat pelajar. Melihat perkembangan pencak silat yang sudah menjurus ke arah prestasi di SD, maka dipandang perlu bagi guru untuk memperkenalkan pencak silat sedini mungkin. Diharapkan siswa sebelum terjun di kejuaraan sudah mengenal pembelajaran pencak silat dengan metode yang benar. Pentingnya metode pembelajaran yang benar bagi siswa SD adalah sebagai bekal dalam proses pembelajaran. Sehingga proses pembelajaran yang benar akan membentuk otot-otot yang diperlukan dalam sikap dan gerak pencak silat (Moh. Saleh, 1986: 6.18). Dengan demikian akan memperkecil terjadinya cedera yang menjadikan trauma bagi siswa. Proses pembelajaran pencak silat bagi siswa SD dapat dikemas dalam bentuk permainan sesuai dengan perkembangannya, sehingga muncul rasa senang, tidak jenuh, dan tidak menakutkan. Sebagai contoh pembelajaran jatuhan depan dapat dilakukan dengan bentuk perlombaan ’’lompat kodok’’ dengan posisi lengan yang membentuk segitiga pandangan ke samping. Dengan cara pembelajaran ini siswa akan merasa senang berkompetisi dan tidak merasa takut. PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BELADIRI Metode pembelajaran beladiri adalah bagaimana cara mengajar beladiri dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembelaan sesuai dengan materi, agar siswa mudah menguasai teknik yang diberikan. Pengertian mengajar beladiri dapat diartikan sebagai berikut: 1. Mengajar adalah menyampaikan dan menanamkan pengetahuan pada siswa. 2. Mengajar adalah memperagakan sikap-sikap dan keterampilan pada siswa. 3. Mengajar adalah suatu pengelolaan dan pengorganisasian kelas dengan mengatur lingkungan serta menghubungkan siswa sehingga terjadi proses pembelajaran. Adapun prisip-prinsip pembelajaran yang harus diperhatikan oleh guru menurut Sardjono (1981: 5) adalah sebagai berikut: 1. Pembelajaran teknik beladiri dimulai dari yang mudah ke yang sukar. 2. Pembelajaran teknik dasar diberikan terlebih dahulu baru menuju pada teknik lanjutan. 3. Pembelajaran harus menyerupai situasi permainan sebenarnya dan dapat dibuat sederhana untuk penguasaan siswa yang lebih baik. 4. Gerakan-gerakan yang salah cepat dibetulkan supaya menjadi otomatisasi gerak yang benar. 5. Koreksi jangan terlalu mengekang sehingga tidak mematikan kreatifitas siswa. 6. Faktor keselamatan harus diperhatikan, khususnya pada saat mengajar tendangan dan jatuhan. SUSUNAN DALAM PEMBELAJARAN BELADIRI Ada beberapa metode dalam susunan pembelajaran pencak silat sesuai tujuan yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang telah dimiliki siswa (Agung Nugroho, 2004: 33-39). 1. Susunan latihan bersaf atau berbanjar Tujuan susunan latihan ini adalah : a. Untuk mengajarkan beladiri pada siswa pemula b. Untuk mengajarkan gerakan-gerakan dasar secara klasikal. 2. Susunan latihan bersaf atau berbanjar (dengan berjalan) Tujuan susunan latihan ini adalah : a. Untuk mengajarkan salah satu teknik pada siswa secara bagian perbagian. b. Untuk mengoreksi teknik yang dilakukan siswa secara bersaf. c. Untuk megajarkan teknik dengan berjalan maju mundur. 3. Susunan latihan melingkar Tujuan susunan latihan ini adalah : a. Untuk mengontrol gerakan yang dilakukan siswa dengan temannya. b. Untuk mengajarkan kekompakan gerakan atau keserentakan gerakan. Susunan ini dilakukan pada siswa yang jumlahnya tidak banyak, dan ditujukan pada siswa tingkat lanjutan. Bisa dilakukan dengan berputar untuk melakukan serangan (pukulan, tendangan, atau jatuhan) kepada teman secara bergantian. 4. Susunan latihan saling berhadapan (bela-serang) Tujuan susunan latihan ini adalah: a. Untuk mengajarkan bela-serang pada siswa dengan teknik pukulan, tendangan, dan jatuhan. b. Untuk mengajarkan teknik jatuhan dan kuncian. c. Untuk megajarkan kecepatan reaksi bela-serang. Perlu diperhatikan pada susunan latihan ini adalah keamanan saat melakukan gerakan (jaraknya cukup di antara pasangan), khususnya teknik pukulan, tendangan, maupun jatuhan. 4. Susunan latihan berurutan tunggal Tujuan susunan latihan berurutan tunggal atau ganda adalah: a. Untuk mengajarkan latihan kecepatan reaksi. b. Untuk mengajarkan otomatisasi gerakan dalam melakukan pembelaan. c. Untuk memberikan pasangan berlatih yang variasi serangannya Pelaksanaannya adalah: a. Seorang siswa berdiri menghadap temannya, kemudian masing-masing melakukan 1 kali serangan secara berurutan bergantian. b. Seorang siswa yang diserang boleh melakukan 1 kali pembelaan disertai serangan balasan. c. Siswa yang telah melakukan serangan terus berlari ke belakang dan disusul teman yang berada di belakangnya untuk melakukan gerakan juga. Begitu seterusnya sampai urutan yang paling belakang selesai melakukan. d. Siswa yang diserang terus berdiri dan melakukan bela-serang sampai habis urutannya, baru digantikan teman yang lain. 5. Susunan latihan berurutan ganda Tujuan susunan latihan berurutan tunggal atau ganda adalah: a. Untuk mengajarkan latihan kecepatan reaksi, dan kelincahan. b. Untuk mengajar otomatisasi gerakan dalam melakukan pembelaan. c. Untuk memberikan pasangan berlatih yang bervariasi serangannya. Pelaksanaan sama dengan susunan latihan tunggal, hanya perbedaannya adalah setelah siswa mendapat serangan kemudian berbalik dan menerima serangan dari arah yang berlainan (kelompok A, dan B). a. Setelah aba-aba “Yak” barisan kelompok A terdepan melakukan serangan, kelompok B melakukan pembelaan setelah itu berbalik arah siap melakukan bela-serang lagi dari siswa kelompok B yang terdepan. b. Siswa kelompok A maupun B yang telah melakukan serangan terus berlari ke urutan paling belakang. c. Latihan akan berhenti kalau urutan masing-masing kelompok yang paling belakang telah mendapat giliran. Latihan ini diberikan untuk siswa tingkat lanjut, tujuannya untuk mengajar kecepatan reaksi, kelincahan, ketepatan, dan daya tahan. 6. Susunan latihan bebas berpasangan Tujuan susunan latihan ini adalah : a. Untuk mengajarkan pemecahan langkah, pola langkah secara berpasangan. b. Untuk mengajar ketepatan, kecepatan reaksi, kelincahan, dan daya tahan dalam melakukan bela-serang. c. Untuk mengajarkan berbagai variasi bela-serang dengan bergantian pasangan. d. Untuk mengajar imajinasi siswa dalam melakukan bela-serang menuju pertandingan (siswa tingkat lanjut). Pelaksanaannya adalah : a. Siswa mencari pasangan untuk melakukan bela-serang. Setelah aba-aba “Yak”, maka siswa boleh melakukan bela-serang sebanyak 4 kali, kemudian melakukan gerakan langkah atau pola langkah. b. Latihan ini berulang-ulang menurut aba-aba dari guru. c. Untuk menghindari cedera, diusahakan sesedikit mungkin kontak dengan badan. BENTUK-BENTUK PEMBELAJARAN PENCAK SILAT Bentuk-bentuk pembelajaran pencak silat adalah pengembangan dari latihan sikap dasar, gerak dasar, serta pembelaan dan serangan. Oleh karena itu guru dituntut untuk menguasai sikap dan gerak dasar, serta pembelaan dan serangan yang selanjutnya bentuk-bentuk pembelajaran tersebut disesuaikan dengan masa pertumbuhan dan perkembangan siswa (Januarno, (1989: 70). Untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan siswa maka materi pelajaran yang diberikan dapat diberikan dalam bentuk permainan yang menyenangkan dan tidak banyak peraturan. Berikut ini beberapa bentuk-bentuk latihan pencak silat bagi pemula (tingkat dasar). Bentuk-Bentuk Pembelajaran Latihan Kuda-Kuda Latihan kuda-kuda merupakan sikap dasar yang harus dikuasai dalam belajar pencak silat, karena mendasari tumpuan kaki untuk penguatan otot-otot tungkai kaki. Bentuk latihan kuda-kuda dapat diberikan secara klasikal berbentuk permainan (Agung Nugroho, 2004: 43-47). 1. Latihan Kuda-Kuda dengan Permainan Kucing dan Tikus Pelaksanaanya: a. Seorang siswa sebagai kucing dan seorang siswa lainnya sebagai tikus. Sedang siswa-siswa lainnya berdiri sikap tegak 1, membentuk lingkaran. Pada permulaan permainan kucing dan tikus berada di dalam lingkaran setelah aba-aba “Yak “ dari guru, maka kucing berusaha memegang tikus. Tikus bebas menerobos keluar masuk pagar yang melingkar, pada saat kucing menerobos pagar maka siswa “membuat sikap kuda-kuda tengah dengan kedua tangan mengepal di samping pinggang” seolah-olah sebagai pagar. b. Pelaksanaan permainan dapat diganti dengan kuda-kuda menyamping ke kiri atau ke kanan pada saat kucing mau menerobos pagar. 2. Pembelajaran Latihan kuda-Kuda dengan Tarik Tambang Pelaksanaanya : a. Siswa dibagi menjadi dua kelompok yang sama postur tubuhnya (masing-masing kelompok 5-8 siswa). Siswa membuat kuda-kuda kaki kanan di depan dengan memegang tali (sabuk yang disambung). b. Setelah ada aba-aba “Yak” maka siswa menarik tali dengan merubah kuda-kuda kaki sebagai tumpuan. c. Pemenang adalah kelompok yang dapat melewati garis batas tengah. Permainan dapat diulang dengan merubah posisi kuda-kuda kaki kiri di depan. 3. Pembelajaran latihan kuda-kuda dengan balok Pelaksanaanya: a. Latihan dilakukan di atas balok yang kuat berdiameter 20 cm, tinggi 20 cm. Sikap awal siswa berdiri di balok tengah (0). 20 cm 20 cm b. Sikap kuda-kuda menyamping siswa melangkahkan kaki ke balok 2 atau balok 4 dengan posisi badan menyamping. 1) Sikap kuda-kuda tengah siswa melangkahkan kaki kiri ke samping balok 1 atau melangkahkan kaki kanan ke samping balok 3. 2) Sikap kuda-kuda depan siswa melangkahkan kaki kiri ke depan balok 2 atau kaki kanan ke depan balok 2. 2 1 0 3 4 Gambar 12. Bentuk Latihan Kuda-Kuda Dengan Balok 4. Pembelajaran Latihan Kuda-Kuda dengan Arah 8 Penjuru Mata Angin (Januarno, 1989: 34). Pelaksanaanya: a. Latihan dilakukan di atas balok yang kuat berdiameter 20 cm, tinggi 20 cm. Sikap awal siswa berdiri di balok tengah (0), sama dengan latihan kuda-kuda dengan balok. b. Aba-aba 1 siswa melangahkan kaki kiri ke belakang, berat badan di kaki kiri. c. Aba-aba 2 siswa melangkahkan kaki kiri serong kiri belakang, berat badan di kaki kiri. d. Aba-aba 3 siswa melangkahkan kaki kiri ke samping kiri, berat badan di kaki kiri. e. Aba-aba 4 siswa melangkahkan kaki kiri serong kanan depan, berat badan di kaki kiri. f. Aba-aba 5 siswa melangkahkan kaki kanan ke depan, berat badan di kaki kanan. g. Aba-aba 6 siswa melangkahkan kaki kanan serong kanan depan, berat badan di kaki kanan. h. Aba-aba 7 siswa melangkahkan kaki kanan ke samping kanan, berat badan di kaki kanan. i. Aba-aba 8 siswa melangkahkan kaki kanan serong kanan belakang, berat badan di kaki kanan. 5 4 6 3 0 7 2 3 1 Gambar 13. Latihan Kuda-Kuda Dengan Arah 8 Penjuru Mata Angin BENTUK-BENTUK PEMBELAJARAN LATIHAN GERAK Pembentukan gerak merupakan modal pesilat dalam melakukan langkah untuk mendekati maupun menjauhi lawan sehingga diperoleh jarak bela-serang yang tepat (Moh. Saleh, 1986: 4.39). Bentuk pembelajaran latihan gerak dapat diberikan secara klasikal berpasangan (berhadapan) atau individu. Adapun bentuk-bentuk latihan gerak dapat diberikan sebagai berikut: 1. Pembelajaran Pola Langkah Lurus dan Sik-Sak dengan Balok Pelaksanaanya: Latihan dilakukan di atas balok yang kuat berdiameter 20 cm, tinggi 20 cm. Sikap awal siswa berdiri di balok tengah (0), dengan sikap pasang tangan rileks di depan dada. a. Siswa berdiri sikap pasang kemudian melangkahkan kaki kanan ke balok 1, ganti kaki kiri ke balok 2, dan seterusnya secara bergantian sampai ke ujung balok 5. Setelah sampai ke balok 5 kemudian berbalik ke arah balok 1. b. Pelaksanaan langkah dapat divariasi dengan angkatan, lompatan atau putaran. c. Pelaksanaan pembelajaran pola langkah lurus dan pola langkah sik-sak sama. Perbedaannya pada arahnya (lurus dan kelak-kelok). Gambar 14. Pembelajaran pola langkah lurus dan sik-sak dengan balok Pelaksanaannya : a. Latihan dilakukan di atas balok yang kuat berdiameter 20 cm, tinggi 20 cm. Sikap awal siswa berdiri di balok tengah (0), dengan sikap pasang tangan rileks di depan dada. b. Pelaksanaan sama dengan pola langkah lurus dan sik-sak (lihat cara melaksanakan pada materi pola langkah sebelumnya). 2. Pembelajaran Latihan Beladiri Falsafah beladiri adalah mengutamakan pembelaan, oleh karena itu unsur-unsur belaan diberikan terlebih dahulu (Notosoejitno, 1997: 37). Unsur-unsur pembelaan meliputi: hindaran, elakan, tangkisan dan tangkapan. Bentuk latihan elakan dengan permainan, pelaksanaannya adalah sebagai berikut: a. Siswa sikap berdiri bebas melingkar, guru berada di tengah lingkaran dengan membawa tali/sabuk yang diberi pemberat bola kecil, kemudian memutar sabuk setinggi dada siswa. b. Siswa harus mengelak ke bawa atau ke samping supaya tidak terkena bola. c. Untuk variasi guru memutar sabuk ke bawah sasaran pada kaki, siswa harus menghindar ke atas dengan melompat/meloncat. DAFTAR PUSTAKA Agung Nugroho. (2001) Diktat PedomanLatihan Pencak Silat. Yogyakarta: FIK-UNY. -------------------.(2004). Pencak Silat: Comparasi, Implementasi, dan Manajemen. Yogyakarta: FIK UNY.. Januarno. (1989). Pedoman Pembinaan Latihan Prestasi Olahraga Pencak Silat. Jakarta: Yayasan Setia Hati Terate. Moch. Saleh. (1986). Materi Pokok Beladiri dan Metodik. Jakarta: Karunia. Notosoejitno. (1997). Khasanah Pencak Silat. Jakarta: CV. Sagung Seto. PERSILAT. (2000). Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antara Bangsa. Jakarta: Humas PERSILAT. Sardjono. (1981). Didaktik dan Metodik Senam.Yogyakarta: FKIK- IKIP.

Item Type: Article
Subjects: Olahraga
Divisions: Fakultas Ilmu Keolahragaan > Pendidikan Olahraga
Depositing User: Eprints
Date Deposited: 20 Jun 2012 04:17
Last Modified: 20 Jun 2012 04:18
URI: http://eprints.uny.ac.id/id/eprint/266

Actions (login required)

View Item View Item