Borich (2007: 23) menyatakan “constructivistism is an active process in
which learners internally construct knowledge from interpretations of their
interactions with their physical and social environment”. Pernyataan Borich
tersebut mengandung arti bahwa pembelajaran konstruktivistik merupakan
sebuah proses aktif yang dilakukan siswa dalam membangun pengetahuan secara
mendalam dari penafsiran-penafsiran yang berasal dari interaksi mereka
terhadap lingkungan fisik maupun sosial.
Tujuan penggunaan pendekatan konstruktivistik dalam pembelajaran
menurut Pribadi (2011: 158) “adalah untuk membantu peningkatan pemahaman
siswa terhadap isi atau materi pelajaran. Konstruktivisme memiliki keterkaitan
yang erat dengan metode pembelajaran penemuan (discovery learning) dan
konsep belajar bermakna (meaningful learning)”. Kedua metode pembelajaran
ini berada dalam konteks teori belajar kognitif.
Sedangkan menurut Sunal & Haas (2011: 30-31) pembelajaran
konstruktivistik adalah sebagai berikut:
Meaningful social studies learning is an active construction process. It creates a network of experimences, ideas, and relationships that educators call knowledge. Starting with the earliest experiences in life, we begin building ever more complex networks of social studies knowledge. Meaningful social studies learning is a process of integrating and building various social studies ideas by adding, modifying, and connecting relationships between ideas. Making relationships also includes the abilities to explain, predict, and apply social studies information to many events.
Dengan demikian pembelajaran IPS yang bermakna merupakan proses konstruksi
aktif. Ini menciptakan jaringan eksperimen, ide, dan hubungan pendidik yang
disebut pengetahuan. Dimulai dengan pengalaman awal dalam hidup, kita mulai
27