dilakukan guru di sekolah pada umumnya masih menggunakan pendekatan
konvensional atau tradisional sehingga sangat tidak efektif, serta menimbulkan
kejenuhan dan kebosanan siswa di dalam kelas.
Keragaman pendekatan dan metode yang diterapkan pada proses
pembelajaran dapat mempertahankan suasana hangat dan menarik, sehingga para
siswa tidak cepat jenuh dan bosan. Salah satu upaya untuk menghadirkan
pembelajaran yang lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna adalah dengan
pembelajaran konstruktivistik. Pendekatan ini lebih menekankan pada keaktifan
siswa untuk mencari informasi dan menggali ide-ide dalam membangun
pengetahuan dengan cara mereka sendiri terhadap segala sesuatu yang mereka
lihat, dengar, dan alami. Siswa belajar membangun pemahaman mereka sendiri
dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal. Siswa dibantu untuk
membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman
(pengetahuan lain) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai. Siswa belajar
bagaimana mereka mempelajari konsep, dan bagaimana konsep tersebut dapat
dipergunakan di luar kelas.
Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan
menerima pengetahuan. Menurut teori belajar konstruktivistik belajar bukanlah
sekedar menghafal berbagai konsep yang terkandung dalam materi pelajaran, akan
tetapi belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman.
Siswa terlibat secara aktif dalam menggali ide-ide untuk membentuk pengetahuan
menurut cara mereka sendiri (Sanjaya, 2012: 38).
2