Pernyataan tersebut memberikan pemahaman bahwa NSTA memandang STS

sebagai belajar dan pembelajaran sains dalam konteks pengalaman manusia.

Pembelajaran STS mengemas pendidikan sains yang sesuai dengan kebutuhan

siswa. Hasil penelitian tentang STS menggambarkan bahwa pembelajaran sains

dalam konteks STS menghasilkan siswa yang lebih memuaskan pada ketuntasan

konsep dan keterampilan proses. Siswa mengembangkan keterampilan kreatifnya

untuk menggunakan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari dan bertanggung

jawab dalam membuat keputusan.

Pembelajaran STS mempunyai kesamaan dengan model konstruktivisme

yang telah dikembangkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Dari dua model

tersebut peneliti memilih model konstruktivisme dalam melaksanakan penelitian

tindakan. “Constructivism isn’t new or radical or revolutionary. Jean Piaget and

Lev Vygotsky developed the theories to support costructivism almost 70 years

ago” (Maxim, 2010: 32).

Konstruktivistik memang bukan model yang terbaik karena tidak ada

model yang paling baik kecuali sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik

materi, karakteristik siswa, serta sarana dan prasarana. Namun model

pembelajaran konstruktivistik mempunyai kelebihan antara lain:

a. Menjadikan siswa berfikir tentang pengetahuan baru, bisa menye-

lesaikan masalah, dan membuat keputusan;

b. Menjadikan siswa paham dengan materi yang disampaikan;

c. Siswa mempunyai nilai tambah yang lebih yaitu bisa mengingat materi

yang disampaikan karena siswa sendiri yang aktif;

5