Nilai yang diperoleh siswa dapat dijadikan sebagai tolok ukur untuk mengetahui

keberhasilan siswa dalam penerapan model konstruktivistik berbantuan media

dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif.

3. Pembelajaran Konstruktivistik

Proses pembelajaran akan efektif jika diketahui inti kegiatan belajar yang

sesungguhnya. Kegiatan pembelajaran yang selama ini berlangsung, berpijak pada

teori behavioristik, banyak didominasi oleh guru. Guru menyampaikan materi

pelajaran melalui ceramah. Dalam pembelajaran guru banyak menggantungkan

pada buku teks. Materi yang disampaikan sesuai dengan urutan isi buku teks.

Diharapkan siswa memiliki pandangan yang sama dengan guru, atau sama dengan

buku teks tersebut. Berbeda dengan pembelajaran konstrutivistik yang membantu

siswa menginternalisasi dan mentransformasi informasi baru. Transformasi terjadi

dengan menghasilkan pengetahuan baru yang selanjutnya akan membentuk

struktur kognitif baru. Dalam pandangan konstruktivistik tidak melihat pada apa

yang dapat diungkapkan kembali melainkan pada apa yang dapat dihasilkan,

didemonstrasikan, dan ditunjukkannya (Budiningsih, 2012: 62-63).

Dalam belajar konstruktivistik guru tidak menstransferkan pengetahuan

yang telah dimilikinya, melainkan membantu siswa untuk membentuk

pengetahuannya sendiri. Guru dituntut untuk lebih memahami jalan pikiran atau

cara pandang siswa dalam belajar. Guru tidak bisa mengklaim bahwa satu-satunya

cara yang tepat adalah yang sama dan sesuai dengan kemampuannya.

26