memperhatikan proses pembelajaran yang dilakukan apakah menyenangkan,
menantang atau dapat memotivasi siswa untuk turut aktif dalam pembelajaran.
Kondisi tersebut disebabkan karena guru lebih fokus untuk menyelesaikan materi-
materi pembelajaran yang dibebankan oleh kurikulum, sehingga guru lebih
memilih menghabiskan materi-materi yang ada dalam buku teks.
Masalah pendidikan dengan kondisi di lapangan tersebut, sebenarnya oleh
pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah
diupayakan dengan berbagai pembaharuan. Pembaharuan tersebut antara lain
dengan cara pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat
pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana, serta peningkatan sistem manajemen
sekolah, agar pendidikan selanjutnya berorientasi lokal, berwawasan nasional dan
global.
Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan tantangan dalam pendidikan,
berbagai teori dan filosofi belajar dan mengajar telah dikenalkan sepanjang tahun
untuk dikaji. Satu diantaranya adalah Science Technology Society (STS) yang
dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Sains Teknologi Masyarakat
(STM) (NSTA Position Statement, 2004: 1), menyebut bahwa,
NSTA views STS as the teaching and learning of science in the context of human experience. It represents an appropriate science education context for all learners. The emerging research is clear in illustrating that learning science in an STS context results in students with more sophisticated concept mastery and ability to use process skills. All students improve in terms of creativity skills, attitude toward science, use of science concepts and processes in their daily living and in responsible personal decision-making.
4